Surabaya, VIVA Jatim-Perkembangan
teknologi digital memudahkan aktivitas masyarakat, mulai dari komunikasi hingga
transaksi ekonomi. Namun di balik kemudahan itu, ancaman siber kini semakin
kompleks dan sulit terdeteksi.
Munculnya spyware bernama Graphite yang dikaitkan dengan Paragon
Solutions menjadi peringatan bahwa ancaman digital tak lagi sebatas virus atau
peretasan biasa.
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Supangat, Ph.D.,
mengatakan serangan siber modern bekerja secara senyap dan menyasar langsung
sistem operasi perangkat.
“Spyware modern tidak hanya menyerang jaringan, tetapi masuk ke inti
sistem dan bisa bertahan lama tanpa terdeteksi,” ujarnya.
Dalam kajian keamanan informasi, pola ini dikenal sebagai Advanced
Persistent Threats (APT). Bahkan laporan ENISA Threat Landscape 2023 mencatat
peningkatan serangan zero-click exploit, yakni serangan tanpa perlu korban
mengklik apa pun. Artinya, perangkat bisa terinfeksi tanpa disadari pengguna.
Supangat menegaskan, penggunaan aplikasi dengan enkripsi end-to-end
seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal belum tentu cukup melindungi data.
“Kalau sistem operasinya sudah disusupi, pesan bisa diakses sebelum
terenkripsi atau setelah didekripsi. Jadi masalahnya ada pada keamanan
perangkat, bukan hanya jalur komunikasinya,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan utama Indonesia bukan hanya teknologi, tetapi tata
kelola dan budaya keamanan digital. Jika keamanan siber masih dianggap sekadar
isu teknis, maka kerentanan akan terus terjadi.
Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga menunjukkan tingginya
anomali trafik siber nasional dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari malware
hingga eksploitasi sistem.
Indonesia sendiri telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022
tentang Pelindungan Data Pribadi. Namun Supangat menilai implementasi dan
pengawasan harus diperkuat agar perlindungan data benar-benar efektif.
Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam riset
keamanan siber dan kolaborasi dengan industri serta regulator. “Satu perangkat
yang terkompromi bisa menjadi pintu masuk ke sistem yang lebih luas. Audit
keamanan, pembaruan sistem, dan literasi digital harus menjadi prioritas,”
tegasnya.
Supangat
mengingatkan bahwa ketahanan siber adalah
tanggung jawab bersama.
“Menjaga integritas perangkat digital berarti menjaga kepercayaan publik dan kedaulatan data nasional,” ujarnya.
Source : Jatim Viva