SURABAYA – Menjelang momen perayaan Idul Fitri
1447 H, suasana di Kampus Merah Putih Universitas 17 Agustus 1945 (Untag)
Surabaya terasa jauh lebih sibuk dan penuh semangat dari biasanya. Ratusan
mahasiswa tampak bersiap bukan untuk ujian, melainkan untuk mengemban tugas
mulia di tengah hiruk-pikuk tradisi tahunan masyarakat Indonesia. Untag
Surabaya baru saja menggelar acara Pelepasan Relawan Mudik Lebaran Tahun 2026,
sebuah langkah inovatif yang menyulap program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi
aksi sosial yang sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan pelepasan ini merupakan wujud
nyata dari implementasi mata kuliah KKN pada Semester Genap Tahun Akademik
2025/2026. Alih-alih hanya berfokus pada program pembangunan di desa seperti
KKN pada umumnya, Untag Surabaya mengambil langkah berbeda melalui skema KKN
Tematik. Di sini, mahasiswa diajak turun langsung ke jalanan, terminal,
stasiun, hingga posko-posko mudik untuk menjadi relawan yang membantu
melancarkan mobilitas warga selama puncak arus mudik Lebaran.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak.,
CA., CTA., dalam laporannya membeberkan program kerelawanan ini dilaksanakan
dalam dua tahap operasional, yakni mulai tanggal 16–21 Maret 2026 yang
merupakan periode H-5 Lebaran, dan dilanjutkan pada 22–27 Maret 2026 untuk
periode H+5 Lebaran. Sebanyak 17 mahasiswa resmi dilepas sebagai relawan dalam
program ini. Para delegasi mahasiswa tersebut merupakan perwakilan dari
berbagai fakultas, meliputi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),
Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknik (FT),
Fakultas Psikologi (FPSi), serta Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Cerdas
(FTEIC). Para relawan ini disebar ke tiga lokasi titik kumpul utama pemudik,
yaitu:Terminal Purabaya Sidoarjo Stasiun Surabaya Gubeng Stasiun Surabaya Pasar
Turi Selama bertugas di posko-posko mudik tersebut, para mahasiswa mengemban
sejumlah tanggung jawab. Mereka bertugas membantu masyarakat dengan memberikan
informasi seputar angkutan darat, mengarahkan pemudik untuk menaiki moda
transportasi yang sesuai, serta siap sedia menjalankan berbagai aktivitas lain
yang dibutuhkan di posko. Tidak hanya membantu secara fisik, mahasiswa juga
didorong untuk aktif membuat konten kreatif bertema "Mudik Happy Untag
Surabaya". Ia menjelaskan bahwa KKN Tematik ini dirancang agar mahasiswa
bisa langsung merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat, terutama di saat-saat
krusial seperti musim mudik.
"Program Relawan Mudik Lebaran ini
adalah cara kita membuktikan bahwa KKN itu tidak kaku. Ini adalah implementasi
langsung dari KKN Tematik yang benar-benar berorientasi pada penyelesaian
masalah yang ada di depan mata. Tujuan utamanya jelas bukan sekadar
menggugurkan kewajiban SKS, tapi ini adalah panggung pengabdian. Mahasiswa
ditantang untuk peduli, tanggap situasi, dan mau berkeringat membantu
masyarakat yang sedang berjuang untuk bisa merayakan Idul Fitri bersama
keluarganya di kampung halaman," papar Prof. Slamet dengan nada bangga.
Semangat pengabdian ini rupanya mendapat
apresiasi luar biasa dari pimpinan universitas. Rektor Untag Surabaya, Dr.
Harjo Seputro, S.T., M.T., yang turut hadir melepas para mahasiswanya,
menekankan betapa pentingnya peran anak muda saat mereka mau membaur dan berkontribusi
langsung. KKN Tematik Relawan Mudik Lebaran ini adalah panggung pembuktian bagi
mahasiswa Kampus Merah Putih. Beliau secara khusus menyampaikan harapan
besarnya agar kehadiran mahasiswa di lapangan dapat membuahkan umpan balik (feedback)
yang positif dari berbagai mitra, dinas terkait, serta instansi yang
berkolaborasi di posko-posko mudik.
"Kehadiran mahasiswa Untag Surabaya
harus bisa menjadi solusi yang adaptif dan cekatan. Kami sangat berharap kiprah
kalian di lapangan tidak hanya membantu kelancaran arus mudik masyarakat,
tetapi juga mendatangkan feedback positif dari mitra-mitra kita.
Tunjukkan bahwa mahasiswa kita benar-benar kompeten, berdedikasi, dan mampu
bersinergi dengan baik di lapangan," tegas Dr. Harjo sebelum menyematkan
atribut relawan secara simbolis kepada perwakilan mahasiswa.
Acara pelepasan yang berlangsung hangat
itu mencapai puncaknya ketika Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA)
Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M. memberikan wejangan formal, beliau justru
menyita perhatian seluruh peserta dengan menceritakan sebuah dongeng singkat
yang sangat menginspirasi tentang makna patriotisme di era modern.
Dalam ceritanya yang mengalir santai
namun sarat makna, beliau mengumpamakan para relawan mudik ini sebagai pejuang
masa kini. "Kalau dulu para pahlawan kita berjuang merebut kemerdekaan
dengan bambu runcing dan mempertaruhkan nyawa, hari ini medan juang kalian
berbeda. Senjata kalian sekarang adalah empati, senyuman, dan kerelaan untuk
melayani sesama," tuturnya.
Beliau juga menitipkan pesan penting
untuk menjaga nama baik almamater. "Patriotisme itu bisa diwujudkan dengan
hal-hal sederhana, seperti menolong ibu-ibu membawakan barang di terminal, atau
sekadar membagikan air minu. Kami punya harapan besar pada kalian. Lewat
keringat dan kerja keras kalian di posko-posko nanti, buatlah nama Universitas
17 Agustus 1945 Surabaya semakin dikenal, dicintai, dan membumi di hati
masyarakat luas."
Acara ini kemudian ditutup dengan
penyematan atribut relawan berupa rompi secara simbolis kepada perwakilan
mahasiswa, diiringi tepuk tangan riuh seluruh peserta. Dengan bekal semangat
kebangsaan dan kesiapan fisik maupun mental, para mahasiswa KKN Tematik Untag
Surabaya kini siap menyebar ke berbagai titik krusial. Harapannya, dedikasi
mereka bisa benar-benar meringankan beban masyarakat dan memastikan perjalanan
mudik tahun 2026 ini terasa lebih aman, nyaman, dan penuh kesan bagi semua
orang.
“Jadilah Pahlawan Kemanusiaan Yang
Menjemput Senyum Sesama Dengan Ketulusan Hati, Karena Sejatinya Patriotisme
Hari Ini Adalah Tentang Tangan Yang Siap Mengabdi Dan Empati Yang Tak Kenal
Henti”
Penulis : Sekretariat LPPM
Editor : Dheny Jatmiko, S.Hum., MA.