SURABAYA, KAMPUS – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali menorehkan inovasi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada periode ganjil tahun 2026 ini, pihak rektorat melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengambil langkah berani dengan mengubah skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler menjadi program "KKN Tematik Relawan Arus Mudik 1447 H".
Tidak tanggung-tanggung, program pengabdian masyarakat ini berkolaborasi langsung dengan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya guna mengamankan dan melancarkan titik-titik vital mobilitas masyarakat jelang Hari Raya Idul Fitri.
Jika biasanya mahasiswa KKN diterjunkan ke desa-desa untuk program pemberdayaan warga, tahun ini ratusan mahasiswa Untag Surabaya dari berbagai fakultas disebar ke pusat-pusat transportasi tersibuk di Jawa Timur. Skema ini dinilai sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat saat ini, di mana arus mudik tahun 2026 diprediksi mengalami lonjakan yang signifikan.
"Kami melihat bahwa esensi dari KKN adalah kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat yang sedang membutuhkan. Pada momentum menjelang Lebaran, titik krisis berada di fasilitas transportasi umum. Oleh karena itu, kami mengubah paradigma KKN tahun ini agar mahasiswa bisa mempraktikkan langsung ilmu komunikasi, manajemen krisis, dan empati sosial di lapangan," ungkap perwakilan LPPM Untag Surabaya dalam apel pelepasan relawan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak bekerja sendirian. Mereka dibina dan didampingi langsung oleh jajaran Polrestabes Surabaya. Sinergi ini terlihat jelas dalam peresmian Pos Terpadu Lebaran 1447 H.
Berdasarkan pantauan tim redaksi, perwakilan mahasiswa KKN tampak antusias berfoto bersama jajaran kepolisian di depan Pos Terpadu Stasiun Gubeng Polrestabes Surabaya yang berhiaskan ornamen khas Ramadhan bertuliskan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H". Para mahasiswa yang mengenakan rompi khusus relawan KKN tampak berbaur akrab dengan aparat penegak hukum, menandakan kesiapan mereka dalam menjalankan tugas operasi kemanusiaan ini.
Penempatan relawan KKN Tematik ini difokuskan pada tiga titik keberangkatan dan kedatangan utama yang menjadi urat nadi pergerakan pemudik di Surabaya, yaitu:
Stasiun Surabaya Gubeng: Fokus pada pendampingan penumpang kereta api antarkota lintas selatan. Mahasiswa bertugas di area cetak tiket mandiri, ruang tunggu, dan membantu mengarahkan penumpang lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas menuju peron keberangkatan.
Stasiun Surabaya Pasarturi: Menangani arus penumpang kereta api lintas utara (Pantura). Di sini, relawan KKN membantu petugas PT KAI dan Kepolisian dalam mengatur alur antrean (crowd control) agar tidak terjadi penumpukan penumpang di pintu masuk.
Terminal Purabaya (Bungurasih): Merupakan titik paling menantang. Mahasiswa diterjunkan untuk membantu memecah kebingungan penumpang bus antarkota dan antarprovinsi (AKAP/AKDP), memberikan informasi trayek yang valid untuk mencegah praktik percaloan, serta membantu di posko kesehatan terpadu.
Keterlibatan langsung mahasiswa dengan aparat kepolisian memberikan pengalaman belajar yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas. Mereka belajar mengenai prosedur keamanan publik, penanganan pertama pada kondisi darurat medis ringan, hingga cara berkomunikasi secara persuasif dengan masyarakat yang lelah dan rentan panik saat bepergian.
Salah satu mahasiswa peserta KKN yang bertugas di Stasiun Gubeng menyatakan kebanggaannya. "Awalnya kaget karena skema KKN berubah total. Tapi setelah turun langsung, rasanya luar biasa. Membantu membawakan barang bawaan lansia atau sekadar menunjukkan arah peron yang benar ternyata memberikan kepuasan batin tersendiri. Kami juga merasa sangat aman karena didampingi oleh bapak-bapak dari Polrestabes Surabaya," tuturnya.
Program KKN Tematik Relawan Arus Mudik ini diharapkan tidak hanya menjadi program insidental, melainkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) pengabdian masyarakat yang solutif dan tepat sasaran di masa depan. Melalui sinergi antara Untag Surabaya dan Polrestabes Surabaya, jargon "Mudik Aman, Ceria, dan Penuh Makna" pada tahun 2026 ini bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang diwujudkan bersama.