Era teknologi yang kian berkembang secara pesat, membuka jendela dunia yang memudahkan untuk belajar dimana saja dan kapan saja. Mahasiswa Untag Surabaya kembali membuat inovasi teknologi. Syahvril Aditya, calon wisudawan prodi Teknik Informatika Untag Surabaya membuat aplikasi pengenalan macam-macam hewan yang ia beri nama “Animal Detector”dengan menggunakan teknologi terbaruArtificial Intelligence(AI) berbasis android.
Adanya aplikasi ini bertujuan untuk mempermudah edukasi pengenalan hewan di Indonesia untuk siswa Sekolah Dasar, rentang usia 8-12 tahun. “Saat ini belajar mengenai pengenalan hewan di sekolah hanya dapat dipelajari melalui buku saja, jadi membosankan. Karenanya saya mencoba membuat aplikasi pengenalan macam-macam hewan agar membuat anak-anak tertarik belajar mengenai hewan-hewan,” terang Syahvril yang hobi bermain musik ini.
Sejak Sekolah Menengah Pertama, ia sudah sangat gemar dalam memainkan komputer. Melalui aplikasi tersebut, pengguna cukup men-downloaddaninstallaplikasi padasmartphone-nya. Untuk mendeteksi suatu hewan, pengguna hanya perlu mengarahkan kamera atauscanobjek hewan tersebut. Setelah itu, teknologi AI dari aplikasi memberikan informasi berbentuk suara mengenai nama dan jenis hewan. “Untuk keterangan masing-masing hewan, saya buat sendiri narasinya. Namun untukvoicesaya menggunakansupportdarigoogle voice,kemudiandownloaddan program,” papar mahasiswa asli Surabaya itu.
Lebih lanjut, Syahvril menjelaskan penggunaan teknologiArtificial Intelligence(AI) dapat mempermudah dalam pengenalan berbagai macam jenis hewan dengan cara menggunakan algoritmaConvolutional Neural Network. “Pengenalan hewan menggunakan teknologiArtificial Intelligencedan android ini dapat mengenalkan hewan secararealtime,” terangnya. Hingga saat ini, Syahvril telah melakukantraining datasetdengan 15 gambar hewan yakni singa, beruang, jerapah, burung merak, burung hantu, koala, kuda, Komodo, kelinci, gajah, harimau, orang utan, kudanil, kanguru dan badak. “Masing-masing data membutuhkan hampir 1000 foto untuk bisa terdeteksi secararealtime,” imbuhnya.
Sulung dari empat bersaudara ini juga mengaku dapat membuat aplikasi pengenalan benda mati bukan hanya benda hidup seperti yang dilakukan pada penelitian kali ini, “semisal pada bangunan A nanti aplikasi dapat membantu menjelaskan sejarah bangunan itu”. Syahvril yang mengaku arek Suroboyo ini berharap karyanya mengedukasi secara positif untuk generasi penerus terutama untuk anak sekolah dasar (SD) yang merasa jenuh dengan pembelajaran daring, “harapannya bisa dipakai untuk pembelajaran, pengennya memang bisa bekerjasama dengan sekolah-sekolah sehingga bermanfaat,” ungkapnya.
Sumber :untag surabaya