SURABAYA,
MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena perundungan
atau bullying di Surabaya tengah menjadi sorotan. Hal ini seiring meningkatnya jumlah kasus yang mencuat ke publik.
Namun di balik angka yang mengkhawatirkan tersebut, terdapat sisi krusial yang
perlu dipahami. Yakni, masyarakat kini mulai berani bersuara.
Pakar Psikologi
dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG)
Surabaya Dr Rr Amanda Pasca Rini MSi Psikolog menilai, lonjakan laporan kasus bullying tak melulu bermakna negatif.
Menurutnya, ini adalah indikator meningkatnya kesadaran kolektif bahwa
perundungan bukan lagi hal lumrah atau sekadar bercandaan antarsiswa.
“Peningkatan
laporan bisa berarti kesadaran masyarakat untuk melapor semakin baik. Ini
positif, artinya isu ini tidak lagi dianggap hal biasa. Namun, tantangan
besarnya adalah memastikan setiap laporan ditangani secara sistematis, bukan
hanya reaktif ketika kasusnya viral," ujar Rini yang juga menjabat sebagai
Wakil Rektor I Untag Surabaya ini, Minggu, 22 Februari 2026.
Secara
psikologis, perilaku perundungan tidak muncul dari ruang hampa. Rini
menjelaskan, ada multifaktor yang memicu seorang remaja bertindak agresif.
Masalah
regulasi emosi misalnya, seperti kesulitan mengelola amarah atau frustrasi. Hal
ini sering kali menjadi pemicu utama. Selain itu, faktor lingkungan dan
kebutuhan akan eksistensi turut memperkeruh keadaan.
“Ada pengaruh
modeling dari kekerasan yang sering dilihat di lingkungan, hingga kebutuhan
akan pengakuan sosial untuk terlihat dominan atau punya kuasa," jelasnya.
“Jadi,
perundungan terjadi bisa karena pelampiasan masalah di rumah, bisa juga
strategi untuk mendapatkan status sosial. Dalam banyak kasus, kombinasi
keduanya,” tambah Rini.
Dampak bagi
korban jauh lebih dalam dari sekadar luka fisik. Rini memperingatkan adanya
bahaya laten berupa kecemasan sosial, overthinking, hingga hilangnya harga diri
yang membuat korban menarik diri dari lingkungan.
“Paling
berbahaya adalah banyak korban memilih diam karena takut memperburuk keadaan.
Jika tidak mendapatkan intervensi tepat, ini bisa berujung pada masalah
kesehatan mental yang sangat serius," tuturnya.
Meski program
Sekolah Ramah Anak (SRA) yang diinisiasi Kementerian PPPA sudah memiliki
kerangka yang baik, akan tetapi implementasi di lapangan dinilai masih
belang-belang.
Di Surabaya,
kata Rini, beberapa sekolah telah memiliki konselor aktif dan edukasi rutin.
Namun di tempat lain, program ini baru sebatas formalitas administratif.
Menurutnya,
deklarasi saja tidak cukup. Dibutuhkan penguatan budaya sekolah yang
benar-benar aman dan nyaman melalui monitoring rutin untuk melihat dampak nyata
dari program tersebut.
“Jadi,
sebenarnya program ini secara deklarasi memang ada namun perlu penguatan dalam
hal implementasi dan monitor secara rutin dampak dari apa yang dijalankan,”
tegas Rini.
Guna menekan
angka perundungan, Rini menyarankan Pemerintah
Kota (Pemkot) Surabaya dan Dinas Pendidikan untuk lebih progresif menjalin
kolaborasi dengan lembaga profesional dan universitas.
Misalnya,
dengan psikolog yang ada di beberapa universitas di Surabaya. Kolaborasi
tersebut dapat berupa program penguatan kapasitas guru dalam mengenali jenis
perilaku bullying dan penanganan yang dapat
dilakukan.
Di samping itu,
penguatan terkait dengan regulasi emosi remaja juga perlu dilakukan. Juga
penguatan peran orang tua lewat parenting education.
"Pendekatannya
harus preventif dan berbasis komunitas, bukan hanya represif setelah kejadian
terjadi," tegasnya.
Disinggung soal
upaya orang tua jika mendapati anak menjadi korban, Rini menekankan pentingnya
validasi emosi sebagai langkah pertama. Orang tua diminta untuk tidak menyuruh
anak membalas atau justru mengabaikan masalah tersebut.
“Dengarkan
tanpa menghakimi. Pastikan anak merasa aman dan didukung. Setelah itu,
komunikasikan dengan pihak sekolah dengan membawa bukti-bukti yang ada,"
sarannya.
Terakhir, Rini
turut mengingatkan orang tua untuk waspada terhadap perubahan perilaku anak.
Hal ini merupakan salah satu sinyal bahwa anak menjadi korban bullying di
sekolahnya.
“Yang paling
penting jaga kondisi psikologis anak. Jika terlihat ada perubahan signifikan
seperti menarik diri, sulit tidur, prestasi turun drastis, maka segera
konsultasikan ke profesional. Bisa psikolog atau psikiater,” pungkasnya.
Source:
Memorandum