logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

Detail Berita

Lewat Pameran Sesudah Hujan, Untag Surabaya Perkuat Ketahanan Banjir di Benowo

SURABAYA – Warga RW 4 Sememi Kidul, Kecamatan Benowo, kini tak lagi diposisikan sebagai korban banjir yang hanya menunggu solusi dari pemerintah. Mereka justru dilibatkan langsung dalam proses pemutakhiran Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) melalui pendekatan partisipatif yang digagas Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Lewat Pameran Jurnal Kreatif bertajuk “Sesudah Hujan” yang digelar Minggu (1/3/2026), pengalaman warga tentang banjir, terutama peristiwa besar pada 2010, diangkat menjadi bahan kajian resmi perencanaan kota. Forum ini bukan sekadar ajang dokumentasi, tetapi ruang strategis untuk mengubah pengalaman kolektif menjadi rekomendasi kebijakan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian lokakarya sosial-ekonomi yang memetakan dampak banjir terhadap mata pencaharian, kerusakan infrastruktur lingkungan, hingga perubahan pola hidup masyarakat. Diskusi kelompok, pengumpulan arsip cerita, serta pemetaan partisipatif dilakukan untuk menggali pengetahuan lokal yang selama ini kerap terpinggirkan dalam perencanaan teknokratis.

Dekan Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., menegaskan bahwa transformasi perencanaan kota harus berbasis kolaborasi. “Perencanaan kota yang baik tidak hanya berbasis data teknis, tetapi juga pengalaman warga. Apa yang dirasakan masyarakat menjadi variabel penting dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ketua RW 4 Sememi, Moch Tohir Muchsin, S.Pd., menyebut pendekatan ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Warga, kata dia, merasa didengar karena pengalaman mereka benar-benar diterjemahkan menjadi bahan rekomendasi.

Model yang diterapkan CeCUR UNTAG Surabaya terdiri atas tiga tahapan utama. Pertama, eksplorasi pengalaman warga melalui diskusi kelompok dan pengumpulan cerita banjir. Kedua, pemetaan sosial-ekonomi partisipatif guna mengidentifikasi dampak banjir terhadap ekonomi rumah tangga dan fasilitas umum. Ketiga, diseminasi hasil dalam bentuk pameran terbuka sebagai bentuk transparansi sekaligus edukasi lintas generasi.

Pameran “Sesudah Hujan” menjadi ruang akuntabilitas publik. Warga dapat melihat secara langsung bagaimana cerita, data, dan pengalaman mereka dirumuskan menjadi bahan evaluasi pembaruan SDMP Kota Surabaya. Pendekatan ini menegaskan bahwa ketahanan kota tidak hanya dibangun lewat betonisasi saluran dan pompa  air, tetapi juga melalui penguatan kapasitas sosial masyarakat.

Salah satu warga senior Sememi, Anisa, mengaku kegiatan ini membuka ruang dialog antar generasi. “Anak-anak sekarang jadi tahu bahwa kampung ini pernah mengalami masa sulit, dan kita bisa bangkit bersama,” tuturnya. Secara lebih luas, model kolaborasi antara akademisi dan komunitas ini menunjukkan bahwa perencanaan kota berbasis partisipasi bukan sekadar konsep teoritis. Sememi menjadi laboratorium sosial yang memperlihatkan praktik konkret bagaimana warga dapat berperan sebagai subjek pembangunan.

Jika direplikasi di wilayah lain yang memiliki kerentanan serupa, model ini berpotensi memperkuat perencanaan kota Surabaya agar lebih inklusif, adaptif terhadap perubahan iklim, serta berkelanjutan dalam jangka panjang.

 


Source : https://jatim.pikiran-rakyat.com/