SURABAYA – Universitas 17 Agustus 1945
(Untag) Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian masyarakat
melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pada Minggu (19/4), bertempat di
Auditorium Lantai 9, Gedung Grha Wiyata, ratusan mahasiswa peserta KKN
Non-Reguler berkumpul untuk mengikuti sesi pembekalan intensif sebelum
diterjunkan ke lapangan.
Acara
yang berlangsung secara tatap muka (luring) ini dimulai tepat pukul
08.00 WIB. Antusiasme peserta terlihat sejak sesi registrasi, di mana para
mahasiswa diwajibkan membawa cetak biodata sebagai tertib administrasi
kehadiran.
Prosesi
pembukaan diawali dengan khidmat melalui kumandang lagu kebangsaan Indonesia
Raya dan Himne Untag Surabaya. Wakil Rektor Untag 3 Surabaya, Dr. Sumiati, MM.,
dalam sambutannya memberikan arahan penting bagi ratusan mahasiswa dalam acara
Pembukaan Pembekalan KKN Non-Reguler yang digelar di Auditorium Lantai 9,
Gedung Grha Wiyata, Minggu (19/4). Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan manifestasi nyata dari Tri Dharma Perguruan
Tinggi, khususnya pada poin pengabdian kepada masyarakat. Beliau mengingatkan
mahasiswa bahwa terjun ke lapangan bukan sekadar menjalankan formalitas
akademik, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk membawa dampak positif
bagi warga.
"Mahasiswa
Untag Surabaya harus mampu menjadi jembatan antara teori yang didapat di bangku
kuliah dengan realitas di masyarakat. Saya berharap kalian menjadi agen
perubahan yang solutif, mampu mendengar aspirasi warga, dan menghadirkan
inovasi yang tepat guna sesuai dengan kebutuhan lokasi pengabdian
masing-masing," tegas Dr. Sumiati, MM., di hadapan para peserta. Lebih
lanjut, Dr. Sumiati, MM. juga menggarisbawahi pentingnya menjaga
integritas dan nama baik almamater selama masa pengabdian. Beliau berpesan agar
mahasiswa senantiasa mengedepankan etika, sopan santun, dan semangat gotong
royong saat berinteraksi dengan masyarakat.
"Identitas
kita sebagai Kampus Merah Putih harus tecermin dalam perilaku kalian. Tunjukkan
bahwa mahasiswa Untag Surabaya memiliki karakter yang kuat, adaptif, dan
memiliki empati tinggi terhadap permasalahan sosial," tambahnya. Dengan
bekal visi yang disampaikan oleh pimpinan universitas, para mahasiswa
diharapkan memiliki kesiapan mental dan intelektual yang matang sebelum memulai
masa KKN Non-Reguler tahun 2026 ini.
Ketua
LPPM Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA., memaparkan
laporan kesiapan teknis dalam pembukaan Pembekalan KKN Non-Reguler yang
berlangsung di Gedung Grha Wiyata, Minggu (19/4). Dalam laporannya, Prof.
Slamet Riyadi menyampaikan bahwa program KKN Non-Reguler tahun ini telah
dirancang secara matang untuk memastikan setiap program kerja mahasiswa sejalan
dengan sasaran strategis universitas dalam pemberdayaan masyarakat. Beliau
menekankan bahwa persiapan yang dilakukan mencakup pemetaan lokasi hingga
sinkronisasi tema pengabdian yang relevan dengan kebutuhan terkini di lapangan.
"Laporan
persiapan ini merupakan bukti komitmen LPPM untuk menjamin bahwa mahasiswa yang
terjun ke masyarakat benar-benar siap, baik secara administratif maupun
programatik. Kami telah menyusun kerangka kerja yang sistematis agar pengabdian
ini memberikan output yang terukur bagi masyarakat dan peningkatan capaian
kinerja institusi," ujar Prof. Slamet dalam sambutannya. Beliau juga
menambahkan bahwa KKN Non-Reguler ini merupakan momentum penting bagi mahasiswa
untuk mengasah soft skills dan kepemimpinan. Menurutnya, LPPM akan terus
mengawal jalannya kegiatan agar seluruh mahasiswa tetap berada pada koridor
ketentuan pelaksanaan yang telah ditetapkan oleh universitas.
"Kami
ingin memastikan setiap tetes keringat pengabdian mahasiswa dikonversi menjadi
nilai manfaat nyata. Oleh karena itu, pembekalan hari ini menjadi sangat
krusial sebagai fondasi sebelum mereka resmi diterjunkan," tambahnya.
Semangat
nasionalisme menjadi ruh utama dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Hal ini ditegaskan langsung oleh
Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., saat
memberikan materi utama dalam pembekalan KKN Non-Reguler di Auditorium Grha
Wiyata, Minggu (19/4). Mengangkat tema "Patriotisme", J. Subekti
menekankan bahwa mahasiswa Untag Surabaya memikul tanggung jawab moral yang
besar karena membawa nama besar "17 Agustus 1945". Menurutnya,
pengabdian kepada masyarakat adalah wujud nyata dari rasa cinta tanah air di
era modern.
"Patriotisme
bukan lagi soal mengangkat senjata, melainkan bagaimana mahasiswa hadir di
tengah masyarakat untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada. KKN
adalah medan perjuangan kalian untuk menunjukkan dedikasi bagi kemajuan bangsa,
mulai dari lingkup terkecil yaitu desa atau kelurahan," ujar J. Subekti di
depan ratusan peserta. Dalam paparannya, beliau mengingatkan agar mahasiswa
senantiasa menjaga muruah institusi dengan menunjukkan perilaku yang
berintegritas. Beliau berharap mahasiswa tidak hanya fokus pada program kerja
fisik, tetapi juga mampu menularkan semangat kebangsaan dan gotong royong
kepada warga di lokasi pengabdian.
"Kalian
adalah representasi dari nilai-nilai luhur Pancasila. Jadilah teladan yang
baik, hargai keberagaman di tempat kalian bertugas, dan pastikan kehadiran
kalian dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," tambahnya. Sesi yang berlangsung
selama 35 menit tersebut diikuti dengan antusias oleh para mahasiswa. Materi
patriotisme ini menjadi modal dasar yang krusial agar mahasiswa memiliki
keteguhan mental dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi dinamika sosial
selama menjalankan program KKN Non-Reguler tahun 2026.
Sebagai
bagian dari komitmen menciptakan lingkungan pengabdian yang sehat dan aman,
Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menghadirkan Badan Narkotika
Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur dalam sesi pembekalan KKN Non-Reguler di
Auditorium Gedung Grha Wiyata, Minggu (19/4). Hadir sebagai narasumber utama,
Kepala Tim P2M BNNP Jawa Timur, Hari Prianto, S.E., memberikan materi
mendalam mengenai "Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika". Dalam
paparannya selama 90 menit, beliau menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran
ganda dalam memerangi narkoba, yakni sebagai individu yang harus menjaga diri
dan sebagai edukator bagi masyarakat di lokasi KKN.
"Mahasiswa
adalah ujung tombak informasi. Saat terjun ke masyarakat nanti, kalian bukan
hanya menjalankan program fisik, tetapi juga membawa misi kemanusiaan untuk
mengingatkan warga, terutama generasi muda, akan bahaya laten narkotika yang
kini menyasar hingga pelosok," ujar Hari Prianto di hadapan para peserta. Beliau
juga memaparkan tren persebaran narkotika di Jawa Timur serta berbagai modus
operandi baru yang perlu diwaspadai. Menurutnya, pemahaman yang kuat mengenai
regulasi dan dampak klinis narkoba akan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa
agar tidak mudah terjerumus dalam lingkaran penyalahgunaan.
"Kami
berharap melalui pembekalan ini, mahasiswa Untag Surabaya mampu menjadi relawan
anti-narkoba yang aktif. Bekali diri kalian dengan pengetahuan, sehingga saat
berada di lapangan, kalian mampu mengidentifikasi risiko dan memberikan edukasi
preventif yang tepat kepada masyarakat," tambahnya. Sesi ini diakhiri
dengan diskusi interaktif, di mana para mahasiswa diajak untuk merancang
pendekatan komunikatif yang efektif guna menyampaikan pesan-pesan antinarkoba
secara persuasif selama masa pengabdian KKN berlangsung. Sinergi antara Untag
Surabaya dan BNNP Jatim ini diharapkan dapat mewujudkan lingkungan masyarakat
yang bersih dari narkoba (Bersinar) dimulai dari peran aktif mahasiswa.
Memasuki
sesi pemungkas dalam rangkaian pembekalan KKN Non-Reguler, Kepala Pusat
Pengabdian Masyarakat (Kapusat Abdimas) Untag Surabaya, Eko April Ariyanto,
S.Psi., M.Psi., memaparkan secara komprehensif mengenai "Ketentuan
Pelaksanaan KKN Non-Reguler" di Gedung Grha Wiyata, Minggu (19/4). Dalam
paparannya, Eko April menekankan pentingnya kedisiplinan dan kepatuhan
mahasiswa terhadap protokol pengabdian yang telah ditetapkan. Beliau
menjelaskan bahwa KKN Non-Reguler memiliki karakteristik khusus yang menuntut
kemandirian dan manajemen waktu yang baik dari setiap peserta.
"Mahasiswa
harus memahami bahwa setiap program kerja yang disusun harus memiliki indikator
keberhasilan yang jelas. Kami di Pusat Abdimas akan memantau secara berkala
untuk memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan mahasiswa benar-benar
memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sasaran," tegas Eko. Menjelang
akhir materinya, suasana auditorium tampak semakin serius saat Eko April
memaparkan detail pembagian kelompok dan lokasi KKN. Beliau menginstruksikan
agar setiap mahasiswa segera melakukan koordinasi internal kelompok dan mulai
melakukan survei awal ke lokasi yang telah ditentukan.
"Pembagian
kelompok dan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan lapangan yang telah kami
petakan sebelumnya. Saya minta setiap kelompok segera membangun komunikasi yang
solid dan mulai mengidentifikasi potensi wilayah masing-masing agar program
yang dijalankan nantinya tepat sasaran," tambahnya.
Penulis : Sekretariat LPPM
Editor : Dheny Jatmiko, S.Hum., MA.