logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

Detail Berita

70 Remaja Terpapar Ideologi Kekerasan di Komunitas Online, Psikolog Untag Surabaya Ungkap Penyebabnya

Ancaman radikalisasi di ruang digital kini semakin nyata. Aparat menemukan sedikitnya 70 remaja Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem setelah bergabung dalam komunitas daring bernama True Crime Community (TCC). Temuan ini menjadi peringatan serius tentang bagaimana ruang digital dapat menjadi pintu masuk penyebaran ideologi berbahaya yang menyasar generasi muda. Di dalam komunitas tersebut, para anggota diketahui aktif berbagi dan mendiskusikan konten kekerasan ekstrem yang mengandung unsur kesadisan. Konten yang awalnya dikemas sebagai ketertarikan terhadap kisah true crime perlahan berkembang menjadi ruang diskusi yang mempromosikan narasi kekerasan dan potensi normalisasi tindakan brutal. Kepala Laboratorium Psikodiagnostik Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Ricky Alejandro Martin, menyebut fenomena ini sebagai sinyal bahaya yang tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, remaja berada dalam fase perkembangan psikologis yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk pengaruh yang datang dari ruang digital. “Remaja seperti tanah liat yang setengah dibentuk. Lingkungan sangat menentukan arah pembentukan karakter mereka,” ujar Ricky.

Ia menjelaskan, sebagian remaja yang terpapar diketahui memiliki latar belakang pengalaman traumatis, mulai dari perundungan, konflik keluarga, hingga kekerasan di lingkungan rumah. Kondisi tersebut membuat mereka cenderung mencari ruang lain untuk mendapatkan penerimaan, perhatian, dan dukungan emosional. Dalam situasi seperti itu, dunia digital sering kali menjadi tempat pelarian. Komunitas online yang terlihat menarik di awal dapat berubah menjadi “rumah semu” yang justru membawa remaja masuk ke dalam lingkaran ideologi kekerasan.

Menurut Ricky, konsep rumah bagi remaja tidak sekadar tempat tinggal secara fisik. Rumah juga berarti ruang psikologis yang aman, hangat, dan penuh dukungan emosional dari keluarga. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, remaja berpotensi mencari pengganti di dunia maya, termasuk pada komunitas yang berisiko. Paparan ideologi kekerasan ekstrem sejak usia muda berpotensi membentuk pola pikir, nilai, hingga perilaku yang terbawa hingga dewasa. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu perilaku agresif dan bahkan berpotensi mengganggu stabilitas sosial di lingkungan masyarakat. Karena itu, ia menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya bergantung pada aparat penegak hukum atau pemerintah. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus berperan aktif dalam mendampingi perkembangan remaja di era digital.

Penguatan fungsi keluarga, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, serta penanaman nilai-nilai seperti Pancasila, norma agama, dan etika sosial sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah remaja terjerumus dalam pengaruh ideologi berbahaya. Di sisi lain, remaja yang telah terpapar juga membutuhkan penanganan serius melalui rehabilitasi psikologis, terapi, serta pemantauan berkelanjutan oleh tenaga profesional. Tanpa pendekatan pemulihan yang tepat, risiko mereka kembali terpapar ideologi serupa di kemudian hari tetap terbuka. Fenomena komunitas kekerasan ekstrem di dunia digital ini menjadi alarm bagi masyarakat bahwa ancaman radikalisasi tidak lagi hanya terjadi di ruang fisik. Kini, ancaman tersebut dapat muncul dari layar gawai menyasar remaja yang sedang mencari jati diri dan tempat untuk merasa diterima.

diterima

 

Source : Artikel berjudul " 70 Remaja Terpapar Ideologi Kekerasan di Komunitas Online, Psikolog Untag Surabaya Ungkap Penyebabnya ",